Catatan Kecil Malam Minggu, Untuk KM ITS

Keluarga Mahasiswa ITS yang selanjutnya disebut KM ITS ialah sistem yang menaungi seluruh aktifitas organisasi kemahasiswaan dalam lingkup institusi pendidikan ITS” – ya, itulah arti dari KM ITS yang tertulis pada pasal 1, Mubes IV yang dilaksanakan pada bulan Juni 2011 lalu. KM ITS pada dasarnya adalah sebuah wadah bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri. Sebuah wadah, yang tentunya tidak sebatas untuk memenuhi kepentingan golongan-golongan tertentu dan tidak pula sekedar dilakukan oleh kalangan-kalangan tertentu saja.

Berbicara mengenai sistem Pemerintahan, ITS mempunyai sistem Trias Politika, yaitu Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Eksekutif Mahasiswa ITS terdiri atas Himpunan Mahasiswa Jurusan, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas dan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS. Legislatif Mahasiswa terdiri dari Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Sedangkan Yudikatif dipegang oleh Mahkamah Mahasiswa ITS. Secara umum, Eksekutif Mahasiswa melaksanakan/melakukan kegiatan-kegiatan Mahasiswa berdasarkan asas  dari, oleh dan untuk mahasiswa. Legislatif berfungsi membuat rancangan perundang-undangan yang kemudian disetujui oleh eksekutif, melakukan controlling dan jaring aspirasi mahasiwa. Kemudian Yudikatif itu sendiri menjalankan fungsi-fungsi yang bersifat normatif dan memegang kekuasaan kehakiman. Diluar sistem tadi, ITS juga mempunyai Lembaga Swadaya Mahasiswa dan Lembaga Minat Bakat yang merupakan bagian penting juga untuk mewadahi potensi mahasiswa di bidang kelembagaan.

Melihat pembagian organisasi yang begitu sistemastis ini, sangatlah terlihat, bahwasannya untuk merumuskan suatu skema yang akan diterapkan oleh seluruh KM ITS ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari sini seharusnya kita ketahui, bahwasannya begitu penting bagi mahasiswa ITS untuk mengetahui alur yang berlaku untuk KM ITS.

Namun dengan adanya sistem yang seperti ini, bukan berarti tidak ada problematika. Salah satu permasalahan serius yaitu ketika mahasiswa hanya mengetahui segelintir dari sistem tersebut, apalagi mahasiswa yang sengaja untuk tutup telinga, tidak mau tahu dan berkelanjutan seperti itu seterusnya. ITS terkenal pula dengan kaderisasinya. Disinilah karakter-karakter baru mahasiswa akan dibentuk. Dengan model kaderisasi yang seperti sekarang ini (pertama kali dilakukan serentak se-ITS, tidak lama dikader tingkat Fakultas dan akhir-akhirnya terpusat di HMJ masing-masing), banyak sekali potensi-potensi mahasiswa baru yang sekedar diarahkan ke arah eksekutif mahasiswa. Padahal seharusnya, dengan adanya sistem Trias Politika ala ITS ini, pembagian mengenai Eksekutif, Legistaif dan Yudikatif harus jalan beriringan. Efek ini lah yang kurang baik akibat sistem pengaderan yang tertumpu pada pihak eksekutif tanpa melibatkan legislatif dan yudikatif secara langsung. Dimana efek selanjutnya berkaitan mengenai prospek mahasiswa untuk berkecimpung di sistem pemerintahan ITS. Eksekutif selalu menjadi pilihan. Lalu, bagaimana dengan SDM yang berkeinginan terlibat langsung pada bidang Legislatif dan Yudikatif? Tidak ada yang bisa menjamin.

Apa yang harus dilakukan mahasiswa ITS untuk semua ini? Apakah cukup sekedar duduk dan diam? Tentu tidak. Pembelajaran mengenai KM ITS sangatlah penting. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengejar kemampuan softskill, IP tinggi, lulus 3,5 tahun dan sebagainya. Namun mahasiswa yang berkarakter baik, mempu memberikan kontribusi untuk Almamater, Bangsa, Negara dan tentunya Agama, itulah generasi perubah yang dicita-citakan oleh pejuang-pejuang kita terdahulu. Bung Karno berkata dalam pidatonya “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Vivat!!!

Oleh Risky D. S. Setiyawan

Share