[Juara 1] IWX 2015: Keping-Keping Kehidupan yang Berharga

puzzle

Saya Surya, lengkapnya I Gede Putu Surya Darma Putra, putra pertama dari pasangan yang berhasil mempertahankan keteguhan cintanya dari tanah rantau hingga pulang ke kampung halaman. Ayah saya adalah seorang pengusaha, kontraktor lebih tepatnya. Walaupun usaha yang ia rintis tidak memiliki nama tenar yang dielu-elukan pada setiap proyek-proyek besar, Ayah adalah kepala keluarga yang sangat gigih. Perjuangan yang ia lakukan untuk mengangkat kehidupan keluarganya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Satu hal yang pasti, ia hebat. Ibu saya adalah anak pertama di keluarganya, sama seperti Ayah, mereka sudah serasi sejak lahir, sepertinya. Sampai saat ini, Ibu masih bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Bali, tempat yang sangat bersejarah bagi saya. Rumah Sakit Surya Husadha, di sinilah Ibu bekerja, serta di sinilah saya dilahirkan. Sekitar pukul lima dini hari, pada tanggal 21 September 1994, menangislah seorang anak laki-laki yang memulai petualangannya di luar rahim Sang Ibu. Konon katanya, nama Surya pun terinspirasi dari waktu dan tempat lahir yang kebetulan memiliki kemiripan. Seorang anak lak-laki lahir ketika Sang Surya mulai terbit di sebuah rumah sakit bernama Surya Husadha. Entah itu guyon atau tidak, tapi saya percaya bahwa nama ini diberikan karena keluarga mengharapkan anak ini bisa menjadi pemberi kehangatan dan inspirasi bagi setiap orang di sekitarnya.

Hidup Menumpang.
Sejak lahir, Surya kecil sudah dihadapkan dengan kehidupan yang berat. Bukan sejak kecil, bahkan sejak lahir. Saat detik-detik kelahirannya, sang Ayah sedang berjuang di sebuah daerah di Kabupaten Gianyar Bali untuk menyelesaikan tanggung jawab memantau proyek jalan yang diberikan oleh atasan. Ia rela diguyur hujan, bahkan lembur semalaman menemani pekerja-pekerja proyek menyelesaikan tugas, demi mengumpulkan nafkah untuk kehidupan kami sekeluarga. Yang mendampingi Ibu ketika itu adalah Kakek, yang juga pencetus nama I Gede Putu Surya Darma Putra. Setelah saya lahir, kami belum memiliki tempat tinggal. Untungnya, atasan Ayah saat itu dengan senang hati menawarkan kami untuk tinggal di rumahnya. Kami pun menumpang di sana hingga saya berumur tiga tahun. Mainan-mainan masa kecil saya merupakan warisan dari anak atasan Ayah. Tak peduli seberapa beratnya hidup waktu itu, saya tetap menikmatinya, mungkin karena belum tahu apa-apa. Namun, yang pasti di tengah perjuangan Ayah dan Ibu yang begitu melelahkan, mereka masih bisa tersenyum dan bahagia, bisa dilihat dari beberapa foto-foto lawas mereka yang mengajak saya bermain dengan mainan-mainan warisan itu.

Bermain dengan Si Angsa Putih.
Ketika saya menginjak empat tahun barulah kami bisa membeli tanah dan memiliki rumah sendiri. Tidak begitu luas memang, tapi cukuplah untuk menampung kami bertiga. Saat itu, daerah sekitar rumah kami masih kosong, sedikit sekali rumah lainnya yang menemani berdirinya bangunan rumah kami. Teman sepermainan pun sulit dicari ketika itu. Beruntungnya saya memiliki teman yang bisa diajak bermain bersama, seekor angsa putih. Si angsa putih merupakan hadiah dari atasan Ayah untuk keluarga kami, katanya supaya saya ada teman main. Alhasil, ia memang teman yang menyenangkan. Tiap siang hari kami bermain-main, saling berkejaran dan tak jarang ia mematuk saya. Waktu itu rumah kami memiliki ruangan yang sangat minim, sehingga sebagian besar luas tanah menjadi tempat yang leluasa untuk berlari-larian. Di jaman itu kehidupan masih tetap terasa berat. Ayah harus bekerja siang malam, bahkan pergi ke luar kota untuk mengemban tanggun jawab yang diberikan atasan. Saya masih ingat ketika malam hari saya sering menangis menanyakan Ayah. Ketika itu Ibu sering menghibur dengan mengatakan sebentar lagi Ayah akan pulang dan membawakan mainan.

Datangnya Tetangga Sebelah Rumah.
Ketika menginjak lima tahun barulah kawasan sekitar rumah kami mulai ramai. Tetangga-tetangga, yang kebanyakan juga merantau, mulai berdatangan. Akhirnya saya memiliki teman bermain selain si angsa putih. Ketika itu, si angsa putih sebenarnya sudah mati, sepertinya ia salah makan atau sejenisnya, dan sejak itu tidak ada lagi angsa yang ribut di pekarangan rumah. Surya kecil mulai bergaul dengan teman sebayanya, sama-sama anak ingusan yang suka berlari kesana kemari. Saya sering bermain di rumah sebelah. Anggota komunitas bermain kami ada banyak, sekitar enam orang. Kegiatan yang kami lakukan pun beragam, mulai dari bermain lompat tali, masak-masakan, petak umpet, gobak sodor, sepedaan, hingga menonton film yang saat itu sedang naik daun, Petualangan Sherina. Betapa menyenangkan hidup ketika itu. Ayah pun sudah mulai mengurangi kegiatan keluar kotanya dan mulai mengambil proyek-proyek sekitaran tempat tinggal kami.

Pengikut yang Perlahan Mulai Bisa Berjalan Sendiri.
Percaya atau tidak, ketika duduk di bangku sekolah dasar, Surya adalah seorang pengikut. Ada seorang teman, namanya Hendra, yang selalu saya ikuti. Kemana ia pergi dan apa yang dimainkan, saya ikut di sana. Dahulu, Surya adalah orang yang hanya bisa ikut-ikutan teman. Mulai kelas empat SD suasana berubah. Entah dari mana datangnya semangat itu, saya mulai gigih dalam bidang akademis. Surya yang dulunya hanya diam di bangku belakang sambil melihat teman-temannya yang lain menjawab soal-soal yang diberikan guru kini berubah. Nikmatnya belajar dan menjawab soal mulai saya rasakan. Tak jarang saya berkompetisi dengan teman yang lain untuk lebih dulu menyelesaikan soal kemudian memperoleh hadiahnya. Ketika itu, tawaran “Siapa yang bisa jawab boleh pulang!” begitu menarik di mata kami, anak-anak SD yang masih lugu dan lucu. Alhasil, ketika lulus sekolah dasar saya mampu meraih nilai tertinggi di sekolah, bahkan se-Kabupaten. Betapa bahagianya masa-masa itu, perjuangan Ayah dan Ibu bisa sedikit saya bayar dengan prestasi ini.

Langkah Awal Merantau dan Bertemu Teman Seperjuangan.
Mungkin karena darah anak rantau yang mengalir dari kombinasi Ayah dan Ibu membuat saya selalu ingin keluar mencari tempat lain yang belum pernah saya jamah. SMP merupakan batu loncatannya, meskipun hanya keluar dari desa tempat tinggal menuju desa lainnya. Surya yang saat itu sudah tidak balita lagi, melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Kuta Utara, salah satu sekolah yang jaraknya lumayan menyita waktu perjalanan. Tiga tahun lamanya saya bersepeda selama lima belas menit setiap hari untuk menuntut ilmu di sekolah tersebut. Di sana saya bertemu seorang teman yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Indrayana, ia yang membuat Surya yang gaptek ini melek akan internet. Anak yang dulunya memandang komputer sebagai sebuah gudang permainan dan bentuk lebih modern dari mesin ketik, kini dibuat melek teknologi. Saya masih ingat bagaimana Indrayana mengajari cara menggunakan google.com untuk mencari gambar-gambar hewan laut demi memenuhi tugas biologi. Mulai saat itu, kami sering berselancar di internet bersama, membuat akun di sebuah layanan chatting dan bercakap-cakap dengan orang di internet, entah siapa mereka. Bukan hanya membuat saya melek teknologi, kami juga memiliki pola pikir yang sejalan. Kami sependapat bahwa menyontek dan kerja sama saat ujian adalah hal yang tidak adil, maka dari itu tak jarang kami selalu dianggap orang yang tiba-tiba tuli ketika ujian berlangsung. Untungnya hal itu tidak membuat kami dijauhi teman-teman. Mereka hanya sensitif ketika ujian dan kembali normal setelah itu. Saya dan Indrayana juga termasuk orang-orang yang setia bersepeda ke sekolah disaat sebagian besar teman-teman sebaya kami lebih memilih mengendarai sepeda motor padahal itu ilegal. Bisa ke sekolah dengan sepeda motor merupakan hal yang keren ketika itu, dan kami berdua otomatis menjadi orang paling tidak keren di saat yang sama. Walaupun tidak keren, saya bisa menarik kepercayaan teman-teman untuk memilih saya menjadi ketua OSIS ketika duduk di bangku kelas delapan, dan Indrayana juga menangani salah satu bagian di dalamnya.
Kami akhirnya berpisah ketika menginjak SMA. Saya diterima di salah satu sekolah ternama di Denpasar, sementara Indrayana tidak. Namun, ia diterima di sekolah yang lebih ternama, yakni Taruna Nusantara, saya bangga dengan sahabat bersepeda saya.

Menempa Hidup Bersama Orang-orang Hebat.
SMA Negeri 4 Denpasar merupakan salah satu sekolah yang terkenal dengan prestasinya di bidang akademik, dan di sinilah saya melanjutkan petualangan. Seperti sebelumnya, ini merupakan langkah merantau yang kedua, keluar dari Kabupaten menuju Ibu Kota. Ternyata benar, siswa yang diterima di sini bukan orang sembarangan. Di sinilah pertama kalinya saya bertemu juara-juara olimpiade, lomba debat, pidato, dan lain sebagainya. Saya yang belum pernah menjuarai lomba apapun merasa ciut di sini. Memang selama SMP beberapa kompetisi pernah saya ikuti dan berhasil menduduki peringkat kedua atau ketiga. Namun, jika dibandingkan orang-orang ini saya ibarat orang desa yang pertama kali menginjak kota, hanya bisa kagum dengan mulut menganga melihat hal-hal yang belum pernah dilihat sebelumnya, walaupun memang pada kenyataannya saya orang desa yang baru masuk ibu kota. Mau tidak mau usaha keras perlu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru ini. Saya coba mengikuti lomba-lomba, berharap bisa sedikit mengangkat reputasi di depan teman-teman. Walaupun sampai tahun ketiga belum bisa berlaga di tingkat nasional, saya bangga akan pencapaian yang berhasil saya raih. Di sekolah ini saya belajar banyak hal, mulai dari menjadi seorang Pasukan Pengibar Bendera, panitia Masa Orientasi Siswa, panitia Lomba Baris-berbaris hingga panitia perayaan ulang tahun sekolah. Berbagai pekerjaan pernah saya geluti. Mengurus bagian perlengkapan, acara, hingga menjadi ketua panitia. Jiwa berorganisasi dan kepanitiaan betul-betul diasah di sini.

Kamu Baru Memenuhi Lima dari Sepuluh Syarat.
Surya remaja tidaklah berbeda dengan teman-teman sebayanya. Masa putih abu-abu merupakan masa yang menyenangkan, karena di sini ia bisa merasakan yang namanya tertarik terhadap lawan jenis. Perempuan itu baru saya kenal ketika duduk di kelas sebelas. Ketika itu kami bertemu karena sama-sama mengemban tugas sebagai official team untuk atlet yang mengikuti kejuaraan olahraga antar sekolah. Entah mengapa, dari sekedar bercanda kami bisa mengenal satu sama lain, dan saat itu saya tertarik dengannya. Namun, ketertarikan itu ditahan oleh nyali yang ciut untuk mengungkapkan bagaimana isi perasaan ini. Alhasil, saya hanya bisa menjadi pengagum yang tidak dikenal dan hanya memata-matai akun sosial medianya. Namun, penantian dan kesabaran berbuah manis. Ketika kelas dua belas, ruang kelas kami berseberangan dan ia duduk tepat di samping jendela yang mengarah ke kelas saya. Tiap jam istirahat saya mencuri-curi kesempatan untuk bisa melihat sosoknya di balik jendela itu. Kami pun semakin sering ngobrol, dan teman-teman sering menggoda jika kami tertangkap sedang ngobrol berdua. Suatu ketika, di saat salah satu teman sekelas berulang tahun dan kami makan bersama di sebuah tempat makan, teman-teman mendudukkan saya kemudian melakukan interogasi habis-habisan oleh karena mereka penasaran dengan status hubungan kami. Satu per satu dari mereka melontarkan pertanyaan yang membuat saya tersipu malu. Itu merupakan pengalaman interogasi yang pertama.
Suatu ketika, saya coba mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada perempuan itu. Di teras pinggiran kelas, tanpa ada bunga atau barang-barang lainnya yang menunjukkan suasana romantis, saya mencoba bicara padanya. Gugup memang, tapi sebagai seorang anak laki-laki saya harus mencobanya. “Kamu baru memenuhi lima dari sepuluh kriteria cowok yang aku suka,” katanya. Meskipun tidak secara gamblang terlontar kata-kata menolak, balasan darinya yang menyatakan bahwa kami sebaiknya hanya berteman merupakan kode yang jelas bahwa status pacar itu tetap sebatas angan-angan. Semenjak obrolan itu hubungan kami sedikit berbeda. Kami jarang ngobrol, namun tetap saling menyapa. Saya merasa diri seperti orang bodoh, tidak tahu harus bertindak seperti apa, hanya menerima semua penolakan. Hingga kelulusan tiba, kami tetap seperti itu, seolah tidak ada apa-apa namun sebenarnya ada sesuatu yang terjadi.

Keputusan yang Sulit dan Pendewasaan Diri.
Sudahlah, biarkan saja kisah asmara terbengkalai. Saat itu saya memang orang yang belum memiliki prinsip dan tidak mau berjuang terkait urusan asmara. Ujian nasional sudah dekat dan dunia perkuliahan sudah menunggu. Semangat belajar memang tidak setinggi ketika duduk di bangku SD dan SMP, mungkin otak ini sudah mulai mencapai titik jenuhnya. Alhasil pencapaian di bidang akademik hanya biasa-biasa saja, setidaknya masih dalam kondisi aman terkendali. Menjelang akhir masa putih abu-abu merupakan kegalauan terbesar. Sebentar lagi masa-masa yang indah akan berlalu dan konon katanya dunia perkuliahan lebih berat dari yang bisa kita bayangkan. Saya dan teman-teman sepakat, di akhir masa SMA ini kami harus menghabiskannya dengan penuh suka cita. Kapan lagi bisa tertawa bersama, bermain kartu di kelas, bernyanyi bersama di sela-sela jam istirahat, hingga mengeksekusi teman yang berulang tahun dengan lemparan kue sambil ditelanjangi di bawah arena panjat tebing. Semua itu merupakan hal yang menyenangkan dan sayang untuk ditinggalkan, tapi apa daya kami harus melanjutkan kehidupan.
Memilih tempat kuliah merupakan hal yang sangat berat. Dengan hanya mengandalkan jalur SNMPTN tulis, saya berjuang agar bisa diterima di Teknik Informatika ITS. Selain jalur itu, sebenarnya saya juga mencoba peruntungan pada ujian tulis penerimaan mahasiswa STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik). Semua tahap ujian berhasil terlewati dan tibalah pada saat-saat yang membuat tingkat kegalauan meningkat drastis. Saya diterima di Teknik Informatika ITS, namun diterima pula di STIS. Ketika itu, teman-teman dan beberapa guru menyarankan untuk mengambil STIS karena sudah pasti mendapat tanggungan dan pasti bekerja setelah lulus kuliah. Ayah dan Ibu ketika itu memberi saya kesempatan untuk memilih tanpa adanya paksaaan harus memilih ITS ataupun STIS. Semalaman saya tidak tidur memikirkan hal itu. Akhirnya keputusan jatuh pada Teknik Informatika ITS dan membuang kesempatan yang ditawarkan STIS. Teman-teman dan beberapa guru begitu menyayangkan hal tersebut, yang otomatis membuat saya kembali galau. Bahkan, Indrayana, teman bersepeda saya ketika SMP, juga lolos ujian STIS dan mengambil kesempatan itu. Namun, saya meyakinkan diri bahwa jiwa saya tidak berada di sana. Surya bukanlah tipikal orang yang suka berada di bawah aturan. Selain itu, saya juga kurang berminat dengan kedinasan karena di mata saya, hal-hal terkait kedinasan begitu mengikat dan bertele-tele. Saya lebih suka berkarya secara bebas tanpa dikekang. Teknik Informatika ITS merupakan tempat yang sesuai. Agar lebih bersemangat dan tidak dihantui rasa galau lantaran membuang kesempatan kuliah di STIS, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri, bahwa selama kuliah di ITS saya harus bisa mendapatkan beasiswa untuk menambah uang saku serta terlibat proyek-proyek. Dua hal tersebut harus saya penuhi untuk membuktikan bahwa kesempatan yang ditawarkan STIS dengan tanggunan hidup yang mapan bisa juga diraih dengan jerih payah di kampus ITS, sehingga membuang kesempatan itu bukanlah suatu kesalahan.

Delapan Bulan yang Bermakna.
Tanpa disangka, perempuan yang dulu saya suka adalah anak rantau. Ia melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran pada salah satu universitas di Jawa Timur. Kami kembali membangun komunikasi. Awalnya iseng, tapi lama kelamaan menjadi sebuah rutinitas yang membuat kami berdua merasa nyaman. Suatu saat ia berkunjung ke Surabaya, mengunjungi kediaman temannya di sela-sela liburan. Ketika itu kami bertemu, dan pertemuan itu menghasilkan status resmi pacaran di antara kami berdua. Ia adalah semangat baru bagi saya, dan ia memberikan sensasi kehidupan yang baru. Karenanya saya berhasil melawan rasa takut untuk bepergian ke luar kota. Suatu ketika, disaat hari ulang tahunnya, pertama kalinya saya nekad bepergian ke luar kota menggunakan kereta api demi memberikan kejutan di hari spesialnya. Sejak itu, saya menyukai bepergian dengan kereta api. Jika ada waktu, berselang beberapa bulan sekali saya mengunjunginya. Banyak pelajaran yang ia berikan. Pelajaran mengenai kesabaran dan kegigihan demi mempertahankan hubungan yang terpisah jarak. Bahkan ia yang mendorong saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan mau bergaul dengan lingkungan sekitar. Delapan bulan kami menjalani hubungan itu, dan banyak hal yang saya pelajari tentang kehidupan karena dorongan darinya. Saya bersyukur pernah menjadi orang yang berarti buatnya, walaupun hubungan itu tidak bisa kami pertahankan lebih dari delapan bulan.

Pencapaian Sebagai Buah Manis Perjuangan.
Janji pada diri sendiri mulai bisa ditepati. Beasiswa berhasil saya dapatkan, dan beberapa proyek berhasil saya jalani selama kuliah di Teknik Informatika ITS. Keputusan untuk membuang kesempatan STIS dan memilih ITS bukanlah hal yang salah. Saya tidak salah, karena saya mau berjuang dengan jerih payah sendiri. Saat ini merupakan penghujung tahun ketiga sebagai mahasiswa ITS. Sebentar lagi masa-masa seperti tiga tahun lalu akan berulang. Transisi seorang mahasiswa menuju dunia pasca kampus yang lebih berat dan penuh persaingan. Semua harus dilalui. Jejak-jejak keringat dari lahir hingga saat ini merupakan saksi perjuangan hidup yang penuh tempaan, membentuk individu yang selalu tumbuh dari yang lemah menjadi kuat, dari yang takut menjadi berani, dari yang tidak tahu apa-apa menjadi berpengalaman. Semua perjuangan ini merupakan proses pendewasaan, dan saya yakin kelak buah manisnya bisa dipetik dan dibagikan kepada orang-orang terkasih dan lingungan sekitar. Surya yang dulunya bukan apa-apa, kini mulai bersinar dan kelak akan menjadi pemberi penerangan dan inspirasi bagi orang-orang sekitarnya. Selama Tuhan belum memanggil, saya akan terus berjuang mendewasakan diri ini.

 

Nama               : I Gede Putu Surya Darma Putra

NRP                : 5112100112

No. HP            : +6281805692526

E-mail              : surya.i.gede12@mhs.if.its.ac.id

 

Share