[Juara 3] IWX 2015: Puding Cokelat

puddingIni tentangku, hanya tentangku

Jika kau tak suka, tak apa

Tinggalkan tulisan ini dan tak usah kau baca

Karena ini tentang aku, dan hanya aku

Kamis, 5 Oktober 1995. Jam menunjukkan pukul 10 tepat. Seorang pria sedang terlihat menunggu di depan pintu kamar di sebuah rumah sakit. Ia tampak cemas, sekaligus gembira. Akhirnya ia akan menjadi seorang kakek, karena sebentar lagi akan lahir seorang bayi mungil yang akan menjadi cucunya yang pertama. Putra sulungnya dan beberapa ahli medis masih berada di dalam ruangan bersama menantunya yang sedang bertarung melawan perih, berada di antara hidup dan mati. Sesaat ia mengurungkan niat untuk menunggu di sana, sampai akhirnya ia mendengar suara tangisan yang pecah diikuti dengan bacaan hamdalah dari kerumunan orang di dalam ruangan tadi. “Alhamdulillaah.” ungkapnya senang. Saat itu juga ia merasa menjadi seorang kakek yang paling bahagia di dunia. Kakek ini ingin segera berhambur ke dalam ruangan dan melihat cucu tercintanya itu, namun dokter belum memperbolehkannya. Anak sulungnya lantas keluar dari kamar, dengan wajah yang berseri-seri tentunya. Ia hanya menatap ayahnya dan tersenyum. Mereka memikirkan hal yang sama. Jika ada seseorang yang lahir, ia adalah sebuah variabel baru di dunia. Dan sebuah variabel harus memiliki nama bukan?

Beberapa jam setelah memikirkan nama, keluarga kecil itu berkumpul di sebuah bilik yang tidak terlalu besar. Kini ruangan itu telah penuh oleh sepasang suami istri dan orang tua mereka masing-masing, kecuali ayah dari Sang Istri karena beliau sedang sakit. Kakek menutup pintu ruangan. Istri dari anak pertamanya mengatakan bahwa mereka harus segera mencari sebuah nama untuk buah hatinya. Putra pertama Si Kakek yang kini menjadi seorang ayah berpikir sejenak sebelum kemudian melontarkan argument, “Talitha aja gimana?” katanya. Kakek terlihat masih berpikir, sedangkan menantunya yang kini menjadi seorang ibu mengernyitkan dahi sembari berkata, “Jangan, itu aneh! Nanti bisa-bisa panggilannya Tali dong?” Aku masih sering tersenyum kecil saat mengingat cerita itu, untunglah saat itu ibu tidak setuju dengan nama yang diberikan ayah. Akhirnya, ayah teringat akan sebuah standard baru dalam dunia komputer yaitu Video Electronic Standard Assosiation yang disingkat menjadi VESA. Karena tidak ingin terlihat seperti menjiplak atau bagaimana, ayah berkata, “Vessa saja bagaimana? V, e, s, s, a. Karena anak adalah rezeki dari Allah, kita beri dia nama Vessa Rizky? R, i, z, k, y. Bagaimana?” Kakek menjawab dengan pelan, “Itu kurang panjang, beri satu kata lagi.” Kakek berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Oktavia? Dia lahir di bulan Oktober, jadi kurasa itu cukup bagus.” saran kakek, yang sepertinya langsung disetujui oleh semua orang karena mereka terlihat mengangguk-anggukkan kepala. “Oke.” kata ayah.

Pembuka yang klasik. Lain kali, jika ada yang menanyakan apa makna di balik namaku, aku akan menunjukkan tulisan ini. Agar mereka dapat membacanya, dan aku tak perlu repot mengulang cerita yang sama berkali-kali bukan? Tanpa ku sadari, aku telah masuk ke paragraph ke tiga pada naskah ini. Haruskah aku perkenalkan diriku? Mungkin tidak, karena kalian sudah tahu siapa penulis naskah tak penting ini. Tak penting untuk kalian, namun berharga bagiku. Biarkan aku memulai dengan peraturan mainnya. Pertama, aku hanya akan menceritakan momen-momen yang bersarang di otakku dan kini menjadi kenangan. Kedua, jika tidak ada niatan untuk membaca tulisan ini, berhentilah sekarang. Aku mohon. Ketiga, jangan sampai setelah membaca tulisan ini dari lembar pertama sampai ke penggalan kata terakhir, kau masih bertanya-tanya, “Siapa sih penulisnya?” Keempat, enough with the explanation, just let it flow and happy reading!

Sejak kecil, aku memang terbiasa dipanggil dengan nama itu. Vessa. Aku masih terbiasa dengan nama itu sampai ada orang lain yang menjadi cucu dari kakekku. Adikku. Mau tak mau aku harus terbiasa dengan sebutan baruku, “Mbak Echa”. Entah mengapa nama Vessa yang keren menjadi Echa yang imut. Sebenarnya aku iri dengan adikku, bukan karena dia lebih mendapat kasih sayang orang-orang di sekitarku. Melainkan karena namanya. Sora. Aku gandrung akan Negeri Sakura yang dulu sempat menjajah Negara yang aku tinggali sekarang. Singkatnya, aku juga ingin memiliki nama dengan Bahasa Jepang. Sora artinya langit. Namun, aku cukup suka dengan nama itu. Mungkin karena aku menyukai Digimon.

Hari berganti, tak terasa aku sudah menduduki kelas 6 SD. Aku tergolong siswa yang biasa saja, sungguh. Dalam akademik aku tidak ahli, apalagi di bidang atletik. Aku hanya ingat pernah menyabet Juara 3 Lomba Menyanyi di bangku kelas 5 SD. Sebenarnya aku bisa masuk final, namun karena aku pernah terlambat ke sekolah aku tidak diperbolehkan melaju ke babak berikutnya dan langsung dinobatkan menjadi pemenang ke-3. Saat di kelas 1 SD dulu, aku telah menanamkan di otakku bahwa aku harus masuk SMPN 9, SMAN 5, dan ITS. Dan ajaibnya semua itu tercapai berkat Allah SWT tentunya. Mungkin karena aku tekun berdoa sejak dini. Doa itu terus mengikuti langkahku ke mana pun aku pergi, hingga menimbulkan sugesti yang sangat kuat bagiku.

Cerita lain yang paling aku ingat adalah saat kelas 9 SMP dulu. Aku menjadi peraih nilai UN tertinggi di sekolah. Untunglah, karena sebenarnya saat itu ada seorang teman yang melihat lembar jawabanku mulai hari kedua sampai terakhir. Nilai-nilainya persis sama dengan nilaiku, hanya saja ia tidak beruntung pada pelajaran Bahasa Indonesia. Saat perpisahan datang, aku datang sendirian. Tidak didampingi orang tuaku. Biasa saja, awalnya ku piker begitu. Namun, lain rasanya saat naik ke atas panggung dan melihat teman-teman lainnya didampingi oleh kedua orang tuanya. Peraih 10 nilai tertinggi UN akan diberi piala oleh Kepala Sekolah. Dan di sanalah aku, berdiri sendiri di atas panggung. Tanpa ku sadari, air mengalir membasahi pipiku. Aku sama sekali tidak berniat menangis di hadapan banyak orang. Namun apa daya, aku tak bisa. Melankolisku kumat. Beruntung wali kelasku lantas mendatangiku dan memelukku. Terimakasih.

Di bangku SMA tidak ada yang luar biasa. Namun, memang lain rasanya. Aku bagaikan besi yang masih mentah saat memasuki pagar hitam di SMA itu. Sungguh, aku merasa sehabis ditempa dengan keras saat itu. Aku menjadi pedang yang kuat. Hampir-hampir seperti Shadow Blade milik Kunka di Game Dota 2. Aku seperti terlahir kembali menjadi lebih kuat. Namun seperti biasa, akademikku hancur. Sangat parah. Aku mendapatkan ranking terakhir pada semester pertama. Oh My God, cobaan macam apa ini. Sebenarnya aku biasa saja, jika aku tahu langsung dari orang tuaku. Namun mereka tak member tahuku sampai akhirnya aku harus mencari tahu semua ranking anak satu kelas. Dan aku tahu tidak ada yang menduduki peringkat terakhir. Saat itulah aku tahu, akulah orangnya.

Akhirnya, aku bertekad. Tidak, aku tidak ingin mengejar ketinggalanku. Aku hanya akan tetap menjadi kuda hitam seperti yang ku lakukan di SMP dulu. Pelan-pelan, dan saat akan mendekati garis finish, aku libas semua lawanku. Mungkin karena itulah, aku kini sering menjadi “pengejar deadline”. Karena memang mindsetku terpola seperti itu. Save the best for the last, and it works. Aku berhasil melalui SNMPTN tulis dengan hasil yang membuat kedua orang tuaku tersenyum. Dan, terjadi lagi. Aku tidak sedang menyanyikan tembang dari Ariel. Terjadi ujian lagi, namaku tidak muncul di koran keesokan harinya. Nenekku panik, sejujurnya aku biasa saja. Toh, sudah jelas kemarin namaku terpampang menjadi salah satu yang berhasil lolos ujian di portal media virtual. Berbeda denganku, nenekku bingung sampai akhirnya mencari-cari koran lain hanya untuk memastikan ada namaku di sana. “Editornya ngantuk itu.” sahutku, asal ceplos saja. Ternyata benar, namaku ada di koran yang lain. Benar-benar, aku rasa editor koran itu harus diberi sanksi.

Dan begitulah aku sampai di sini, Teknik Informatika ITS. Bertemu dengan orang-orang yang tak kalah hebat dengan kehidupan SMA-ku. Namun aku tak tahu, mungkin kehidupan SMA-ku lebih keras sehingga aku menjadi semakin lemah sekarang. Aku merindukan “aku” yang dulu. Kini, aku bagaikan puding cokelat yang lunak. Mungkin suatu saat nantiakan ku temukan momen yang baik, agar aku bisa menjadi lebih kuat lagi. Seperti, Battle Fury mungkin?

 

Nama : Vessa Rizky Oktavia

NRP : 5112100052

Hp : 083849878767

Email : vessango9@gmail.com

Share