[Juara 2] IWX 2015: Kekuatan Doa Orangtua

orangtuaSetiap orangtua pasti memiliki impian tersendiri untuk anaknya. Impian melihat anaknya sukses, itu pasti. Tetapi sukses memiliki arti masing-masing bagi setiap orangtua. Begitu juga orangtua saya, terlebih ibu saya. Sejak saya kecil, impian ibu saya adalah melihat anaknya bisa sekolah di luar negeri. Sewaktu ibu saya muda, dia merupakan kandidat kuat untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke Amerika Serikat, tetapi hal tersebut ditentang dengan keras oleh nenek saya. Perlengkapan yang dia telah siapkan lenyap di dalam lemarinya, alhasil mimpinya untuk sekolah di luar gagal. Oleh karena itu ibu saya tidak mau membatasi mimpi anaknya. Ibu saya malah bermimpi, semoga anaknya bisa menggantikan dia untuk merasakan sekolah di luar negeri.

Yang namanya sekolah di luar negeri tidaklah mudah. Selain faktor kemampuan anak, faktor lain yang berperan sangat penting ialah uang. Keluarga saya memang tidak kekurangan, tetapi orangtua saya tidak sanggup untuk mengirimkan anaknya sekolah di luar negeri dengan biaya sendiri. Keluarga saya juga sempat mengalami krisis keuangan dikarenakan ayah saya ditipu oleh salah satu temannya. Tetapi bukan berarti mereka menyerah untuk menyekolahkan saya atau adik saya di luar. Untuk saya, mereka sudah menyiapkan rencana jangka panjang dari saya kecil.

Saya bersekolah di sebuah SD Islam (swasta) di Makassar. Jarak sekolah saya tidak jauh dari rumah, hanya 5 menit jalan kaki tetapi saya hampir selalu terlambat ke sekolah. Karena sekolahnya baru dan saya merupakan angkatan pertama, saya banyak dikenal guru dan karyawan sekolah, terlebih lagi saya sedikit bandel. Tetapi meskipun saya bandel, saya sering mewakili sekolah saya di lomba matematika.

Sekolah tersebut memiliki SMP, dan saya menyangka bahwa saya akan lanjut di sekolah tersebut. Tetapi sejak saya duduk di kelas 5 SD, orangtua saya sudah berencana untuk memasukkan saya di sekolah baru, jaraknya sektiar 50 menit dari rumah saya. Saya mengikuti kemauan orangtua saya dan mengikuti tes untuk masuk sekolah tersebut, dan setelah tes tertulis dan wawancara, saya pun diterima. Ah iya, sekolah tersebut merupakan sekolah protestan. Banyak yang tidak setuju saya bersekolah di sana, terutama nenek. Tetapi orangtua saya tetap menyekolahkan saya di sana.

Kisah saya selama SMP dimulai dengan agak menyedihkan sebenarnya; saya tidak punya teman. Di saat yang lain memiliki setidaknya satu atau dua orang teman yang berasal dari sekolah dasar yang sama, saya hanya sendiri. Bahkan di angkatan saya hanya saya yang sendiri beragama islam, dan hanya tiga atau empat orang yang „pribumi“. Saya merasa memasuki dunia lain. Dunia persekolahan yang benar-benar beda dengan sekolah dasar saya dulu. Sebagai contohnya saya harus ikut mengikuti ibadah mingguan, dan panggilan ke ibu dan bapak guru yang menjadi „Sir“ dan „Miss“.

Pada awalnya, disaaat yang lain duduk bergerombolan makan dengan teman-temannya, saya duduk dan makan sendiri di kantin. Hal itu sering saya lakukan hingga wali kelas saya mendatangi saya, bertanya kepada saya kenapa saya sering makan sendiri. Saya lalu menceritakan bahwa saya masih sedikit kesulitan untuk mengikuti budaya baru, teman-teman baru. Beliau lalu menyemangati saya. Akhirnya pada akhir kelas tujuh saya sudah memiliki beberapa teman.

Perbedaan budaya. Di sekolah itulah pertama kalinya saya merasakan kesulitan untuk mengikuti dan mengerti budaya lain. Teman-teman saya memiliki panggilan lain untuk paman, bibi, kakak, nenek, kakek mereka. Mereka memiliki keseharian yang berbeda. Mereka juga punya mental yang berbeda. Saya sempat merasa tertekan bersekolah di tempat tersebut, di mana uang bukan menjadi masalah besar bagi mereka, di mana liburan ke luar negeri merupakan kegiatan normal yang dilakukan setiap tahun, di mana gonta-ganti mobil itu wajar-wajar saja, di mana kebanyakan orang masih memiliki pengasuh yang mengurus mereka, di mana sebagian besar sudah memiliki masa depan yang pasti: menjadi penerus toko, hotel, restoran, atau usaha lain keluarga mereka. Bagi teman-teman saya hal tersebut wajar, tetapi bagi saya itu hal yang sangat baru.

Sempat saya berpikir untuk keluar dari sekolah tersebut, apalagi pada waktu saya naik ke kelas delapan, keluarga saya mengalami krisis keuangan karena ayah saya ditipu oleh salah satu temannya. Banyak barang-barang di rumah saya yang hilang satu persatu karena dijual atau digadai; tv, mobil, freezer, laptop, dll. Karena hal tersebut, saya terkadang menumpang di mobil guru saya yang kebetulan tinggal satu kompleks untuk pergi ke sekolah. Terkadang saya harus nginap di rumah nenek saya yang lebih dekat, supaya paman saya dapat mengantar saya ke sekolah dengan motornya, Yang awalnya saya dikasih uang jajan, terkadang harus membawa makanan karena harga makanan di sekolah terlalu mahal. Uang sekolah jutaan perbulan (untuk saya dan adik saya) terpaksa menunggak dan sudah sangat biasa saya dipanggil oleh tata usaha sekolah perihal pembayaran SPP.

Tetapi saya teringat perkataan ibu saya. Orangtua saya ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Ibu saya selalu berkata, “Jangan khawatir masalah uang. Uang banyak gapapa dipakai kalau untuk pendidikan.” Selain itu, mereka sengaja memilih sekolah tersebut dikarenakan perbedaan budaya. Ibu saya ingin melihat saya dapat bergaul dan bermain dengan anak-anak yang berbeda latar belakang, berbeda asal, berbeda agama, berbeda budaya.

Hal paling positif yang saya pelajari dari sekolah tersebut adalah belajar untuk berada di lingkungan minoritas, di mana saya beda, di mana saya harus belajar untuk berbaur, dan belajar mengerti cara pandang teman-teman saya, bukannya cara pandang saya yang harus mereka mengerti. Dan semakin saya berbaur dengan mereka, semakin mereka menghargai saya juga. Pada saat puasa misalnya, ketika saya di kantin mereka merasa tidak enak makan di depan saya. Atau ketika saat pelajaran olahraga, mereka bertanya kepada guru kami apakah saya boleh diberi ekstra istirahat karena puasa. Saya dikenalkan ke budaya baru, dan saya belajar untuk melihat dari sudut pandang mereka.

Dan pada akhirnya, saya pun merasa “sehati” dengan teman-teman saya. Saya yang awalnya tertutup, menjadi lebih terbuka di tahun-tahun berikutnya. Saya memiliki banyak teman, dan mengembangkan bakat saya di sekolah tersebut. Hari-hari saya yang dulu biasanya kelabu, berubah jadi lebih berwarna. Saya dipilih untuk masuk orkestra sekolah, saya mewakili sekolah mengikuti lomba matematika, saya diajari debat bahasa inggris, saya punya band dan band kami sempat memenangkan lomba, dan yang paling penting, di tempat itulah saya menentukan, mau kuliah apa saya nanti, kuliah di jurusan teknik informatika.

Dan yang namanya pertemuan, pasti ada perpisahan. Ketika sudah kelas sembilan, dan pendaftaran SMA untuk sekolah saya ini dibuka, saya pun memberitahukan orangtua saya kalau saya ingin lanjut SMA di sini. Tetapi kali ini malah orangtua saya yang tidak memperbolehkan saya untuk melanjutkan ke SMA yang sama. Alasannya bukan karena biaya, tetapi mereka menginginkan saya untuk masuk ke SMA negeri, lebih tepatnya lagi, sekolah asrama yang letaknya 2 jam dari Makassar. Awalnya saya tidak mau, karena saya ingin bersama teman SMP saya, dan saya juga ingin tinggal di Makassar dan tidak ingin tinggal di asrama. Tetapi apa boleh buat karena orangtua saya yang membiayai sekolah saya, saya akhirnya nurut saya.

Ketika penguguman keluar di koran, saya entah senang atau sedih melihat nomor pendaftaran saya ada di pengumuman. Senang karena bisa lulus di salah satu sekolah terbaik di Sulawesi Selatan (orang-orang menyebut sekolah SMA Andalan, bukan unggulan), tetapi sedih juga karena harus meninggalkan zona nyaman saya sekali lagi.

Dua bulan pertama di asrama merupakan masa yang terberat bagi saya. Dua bulan tersebut kami – siswa baru – tidak diperbolehkan sama sekali untuk menghubungi orangtua. Semua peralatan komunikasi dan elektronik disita. Hanya orangtua yang bisa menghubungi kami, itupun dengan melalui surat dan kiriman satu arah. Mereka dapat mengirim, tetapi kami tidak dapat mengirim kabar balik. Hari pertama saya di asrama saya habiskan dengan menangis di bawah selimut, merindukan orangtua, keluarga, dan rumah saya.

Dan sekali lagi, perbedaan budaya. Saya menghadapinya lagi. Di saat SMP saya berisi anak-anak yang mampu, di SMA saya lebih berisi anak-anak sederhana, yang datang bersekolah dengan beasiswa dari pemerintah kabupaten mereka. Dan pada waktu itu, sekali lagi, saya yang harus merubah pandangan saya, bukan mereka yang harus mengerti cara pikir saya.

Awalnya saya – sekali lagi – merasa tertekan. Jauh dari orangtua, tidak boleh menghubungi orangtua, itu hal yang baru. Cuci baju sendiri tanpa menggunakan mesin cuci, menyetrika baju sendiri, membersihkan kamar sendiri, melipat baju sendiri, semua itu merupakan hal yang baru untuk saya. Banyak hal yang harus saya sesuaikan. Saya yang biasanya dimanja di rumah, sekarang ditinggal sendiri dan harus mengurus diri saya sendiri. Untuk saya yang pada waktu itu masih 14 tahun, hal itu terlalu susah.

Setelah 2 bulan berada di asrama, kami diperbolehkan pulang untuk sebulan (waktu itu libur bulan Ramadhan), dan pada saat itulah saya merasakan betapa berharganya waktu bersama keluarga setelah 2 bulan tidak bertemu dengan mereka. Ketika harus kembali lagi ke asrama setelah liburan berakhir, berat rasanya hati ini meninggalkan rumah dan kembali ke asrama.

Dan sekali lagi, setelah beberapa bulan tinggal di asrama, saya merasa tidak betah dan meminta kepada orangtua saya untuk pindah sekolah ke SMA yang di Makassar saja. Tetapi mereka menolak dengan keras. Di sinilah baru saya mengetahui alasan kepada saya dipindah dari satu sekolah ke sekolah lain yang latar belakangnya sangat berbeda.

Saya teringat sewaktu saya masih kecil, ibu saya bercerita ke saya bahwa teman kelasnya pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Jerman melalui program AFS. Saya yang dulu masih kecil dan lugu tidak terlalu menghiraukan dan menganggapnya hanya angin lalu saja. Ketika saya minta pindah sekolah, ibu saya berkata, „Mau pindah sekolah? Berarti nanti susah dong untuk daftar AFS kalau pindah sekolah, artinya kamu ga bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitar kamu.“ Dan saya pun terdiam. Kalah argumen. Tetapi saya dengan ikhlas menerima hasilnya.

Pendaftaran AFS dibuka bulan April, dan ibu saya sudah mewanti-wanti saya dari beberapa bulan sebelumnya untuk mendaftar. Hari terakhir pengumpulan berkas merupakan hari dimana nenek buyut saya (nenek dari ibu) meninggal. Saya sempat mengurungkan niat saya untuk mendaftar karena kurang beberapa hal, tetapi ibu saya menyuruh saya untuk menyelesaikan pendaftaran dan mengumpulkan berkas. Sekarang tinggal doa dan usaha di tingkat seleksi regional chapter.

Saya baru menyadari hasil dari pindah-pindah sekolah saya sewaktu saya lulus tahap pertama seleksi AFS, dan berhak mengikuti tahap wawancara. Saya sangat ingat pertanyaan yang diajukan saya waktu itu adalah, “Menurut kamu, kelebihan kamu dibandingkan anak-anak yang lain apa?” Saya lalu tersenyum, dan dalam hati berterima kasih kepada orangtua saya, karena telah menyekolahkan anak sulungnya ini di sekolah yang berbeda.

“Saya bisa beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Saya bersekolah di SD Islam, dan kemudian saya melanjutkan pendidikan saya di SMP Protestan. Setelah tamat SMP, dari SMP yang mewah saya melanjutkan pendidikan saya di SMA Negeri, di asrama, jauh dari orangtua, di mana sekolah tersebut berbeda dengan SMP saya. Selain itu, saya tau bagaimana rasanya menjadi minoritas,“ jawab saya sambil menjelaskan mengenai pengalaman saya sewaktu SMP.

Jawaban yang saya berikan memang hanya beberapa kalimat, dan kalau dihitung hanya 1-2 menit. Tetapi untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya membutuhkan hampir 10 tahun pengalaman hidup saya dari saya SD sampai awal SMA. Oleh karena itu, ketika saya dinyatakan lulus dari tahap ke tahap, dan sampai saya menerima surat yang berisi informasi tentang keluarga yang akan menampung saya di Jerman, saya selalu bersyukur tidak pindah sekolah, saya bersyukur tidak keras kepala dan tetap mendengarkan perkataan orangtua saya.

Pada saat di Jerman, semua hal memang baru, tetapi situasi tersebut terasa familiar, di mana saya harus kembali beradaptasi dengan suatu lingkungan dan budaya. Entah apa yang terjadi kepada saya jika saya tidak pernah mengalami fase di mana saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Setelah saya menghabiskan satu tahun di Jerman, dan pulang sebagai pribadi yang baru, saya tetap bersyukur. Saya mengingat kembali masa-masa di mana saya sendiri, di mana saya menjadi minoritas, di mana saya harus terus beradaptasi dengan lingkungan baru, di mana saya pernah mencapai titik menyerah, dan di mana orangtua saya selalu mendukung saya, memberikan saya nasihat, dan tidak pantang menyerah untuk menyekolahkan anak mereka bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga.

Sekarang sudah merupakan tahun ke-7 saya tidak tinggal bersama orangtua saya. Rumah benar-benar seperti rumah, dan tujuan saya jika pulang benar-benar untuk quality time bersama keluarga. Terkadang, ketika saya homesick, ketika saya kangen rumah, ketika saya hamper menyerah dan minta pulang, saya teringat lagi dengan usaha orangtua saya untuk menyekolahkan anaknya ini.

Setiap orangtua memiliki impian untuk anak mereka. Dan saya berterima kasih kepada orangtua saya karena tidak pantang menyerah menghadapi anak sulungnya yang satu ini.

Setiap orangtua memiliki impian untuk anak mereka.

Dan untuk saya, masih banyak harapan orangtua saya yang masih harus saya penuhi.

Nama               : A. Heynoum Dala Rifat

NRP                : 5112100084

No. HP            : (+82) 010 – 2592 – 2794

Email               : dalarifat@outlook.de

Share