Gudeg Hangat dari KBRI di Singapura

Senin (20/4), perjalanan “Informatics Goes To International” dilanjutkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. Kami disambut dengan Bapak Ismunandar selaku Atdikbud KBRI Singapura, Kak Sinta dan Kak michael. Menurut Pak Ismunandar, jumlah pendatang dari Indonesia cukup banyak, dimulai dari untuk wisata, belajar ataupun untuk bekerja. Walaupuan Singapura adalah negara kecil tetapi ada sekitar 200ribu orang dari negara Indonesia. untuk mahasiswa sendiri sekitar 25ribu, tenaga kasar (pelaut) 10ribu-15ribu, tenaga kerja wanita 100ribu, dan lain-lain

Untuk pendidikan di Singapura, untuk jenjang seperti SMP di Indonesia ditempuh selama 4 tahun. setelah menyelesaikan Cambridge General Certificate of Education ‘Ordinary’ (GCE ‘O’ Level) atau ‘Normal’ (GCE ‘N’ Level). bisa melanjutkan antara Junior ColKBRIlege (JC) atau ke Insitutes of Technical Education (ITE) dan Politeknik , JC untuk mempersiapkan diri untuk memasuki universitas, dan ini ditempuh selama 2 tahun. kalau ITE (sejenis smk) yang nilai O levelnya kurang bagus, tapi ketika lulus, mereka bisa lebih baik, karena fasilitas sangat memadai, untuk contoh, di bagian keteknikan bagian pesawat, dari sekolahnya sendiri menyediakan pesawat real beneran, sejenis pesawat besar (penerbangan domestik) ada beberapa, dan pesawat kecilnya ada banyak sekali. kemudian bisa di lanjutkan dengan Perguruan Tinggi. ada beberapa universitas baru di Singapura, contohnya STUD (salah satu universitas yang bekerjasama dengan MIT)

Serta, Menurut Kak Michael, AEC jangan dianggap berubah drastis, sebenarnya dari dulu sudah melakukan AEC namun untuk kedepannya akan lebih dikembangkan. Yang paling sederhana untuk dipersiapakan yaitu, kompetisi bidang masing-masing, kalau orang itu berkompeten di bidangnya tentu saja akan mudah. jadi jangan sekedar apa yg tertulis di ijasah, tapi apa yang bisa kami lakukan. dan komunikasi yang menjadi penting, harus bisa mengutarakan apa yang ingin sampaikan, dan bahasa yang lebih mendukung.
bisa jadi kita menang dalam hal kompetisi, tapi kita bisa kalah dalam mengekspresikan apa yang kita bisa, jadi latihlah.

kalau bicara dengan kompetisi, pendidikan Indonesia tidak kalah. orang Indonesia terkenal punya jalan banyak. kalau orang luar, jika ada kerusakan dalam mesin dan tidak ada di literatur , mereka tidak bisa. kalau orang indonesia terkenal nekat, kalau tidak ada di literatur, kita ngutak-ngatik sendiri atau pinter ngakalin. dan. di tingkatkan kepercayaan diri, sering-sering presentasi/di singapura, kita harus mengikuti rules. prosesnya banyak dan harus sesuai dengan literatur. akademik writing dan speaking ditingkatkan. tapi jangan takut, disini banyak orang negera lain yang kurang dalam penyampaian bahasa inggris. Dan kunjungan ini ditutup dengan ramah tamah makanan khas Indonesia yaitu gudeg hangatKBRI

Share